Translate

Sabtu, 10 Februari 2018

Kesalahan Berlogika

KESALAHAN BERLOGIKA

Kesalahan berlogika yang dalam bahasa Inggris disebut 'logical fallacy' - adanya bias secara kognitif - merupakan hal yang seharusnya bisa dihindari. Namun malah umum dijumpai dalam setiap perdebatan, mulai dari yang disiarkan di TV, debat di warung kopi, debat di SMA, sampai pada debat di sosial media. Bahkan oleh kaum intelektual sekalipun.

Logical fallacy yang paling sering dijumpai ada enam.

1. ARGUMENTUM AD HOMINEM
Yakni menyerang pribadi lawan, bukan argumen yang disodorkan.

Contoh:
A : "Kita harus senantiasa menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia."
B : "Lho keluarga kamu sendiri berantakan kok jangan sok ngurusin orang lain deh kalau ngurus anak bini sendiri aja nggak bisa!"

Kesalahan:
Alih-alih mematahkan argumen Si A, Si B pihak yang diajak berbicara justru langsung "menghunus keris" pada ke sisi pribadi lawan bicaranya. Jadi, 'B' shoots the messenger, not the message.

2. STRAWMAN FALLACY
Yakni menciptakan 'manusia jerami' (citra (image) palsu) untuk diserang, bukan argumen aslinya.

Contoh:
A : "Hari ini ada acara sama teman, jadi nggak bisa nganterin kamu ke mall."
B : "Jadi kamu udah males antar jemput aku? Udah nggak sayang lagi sama aku? Kamu egois!"

Kesalahan:
Si A hanya bilang demikian (pernyataan di atas) namun Si B melontarkan argumen (manusia jerami) yang tidak relevan. Biasanya yang menuduh egois itulah yg egois asli.

3. APPEAL TO EMOTION
Yakni menggunakan emosi sebagai dasar sebuah argumen.

Contoh:
A : "KPK menangkap tangan hakim MK bernama Afi sebagai penerima suap."
B : "Tidak mungkin! Selama ini dia sangat baik dan bijak. Lihat saja tulisan-tulisannya dan penampilan dia yang sangat agamis itu!"

Kesalahan:
Yang bisa dijadikan tolok ukur sebuah kebenaran adalah data dan bukti empiris, bukan penilaian berdasarkan emosi yang subyektif ataupun agama seseorang.

4. ARGUMENTUM AD POPULUM/BANDWAGON FALLACY
Yakni mendasari kebenaran argumen dengan suara mayoritas.

Contoh:
A : "Menurut penelitian, merokok tidak baik bagi kesehatan."
B : "Orang jaman dulu kebanyakan merokok, tapi mereka sehat-sehat aja tuh!"

Kesalahan:
B tidak otomatis mematahkan kebenaran argumen A hanya karena dia menyimpulkan suatu penilaian dari pandangan terhadap mayoritas.

5.APPEAL TO AUTHORITY
Yakni mendasarkan argumen pada pendapat orang yang berpengaruh/punya otoritas.

Contoh:
A : "Ada apa dengan sekolah itu?"
B : "Kata Pak Bupati, sekolah X adalah sekolah yang paling angker di daerah sini. Berarti benar, kan, dugaanku?!"

Kesalahan:
Hanya karena bupati mengatakan suatu hal bukan berarti hal itu otomatis jadi kebenaran.

6. FALSE DILEMMA
Sering juga disebut dengan 'argumen hitam-putih'. Sederhananya adalah argumen yang "kalau tidak begini, pasti begitu".

Contoh:
A : "Dukung KPK atau tidak?"
B : "Tidak."
A : "Jika tidak dukung KPK berarti koruptor!"

Kesalahan:
A melontarkan kesimpulan "koruptor" pada B sebagai satu-satunya opsi, padahal A tidak seharusnya mengesampingkan faktor2 lain yang bisa mendasari keputusan B tidak mendukung KPK, dan bisa saja Si B pun tidak anti KPK.

Keenam jenis 'fallacies' tsb di atas hanya sebagian saja, sisanya bisa Anda cari sendiri.
Sejauh yang saya tahu, menggunakan gestur merendahkan lawan saat debat merupakan hal yang tidak etis. Usahakan untuk tetap menjaga kesantunan dan etika dalam debat yg sehat.

Don't raise your voice, but  improve your argument.
Menanglah secara elegan dengan menghindari logical fallacy

Source : Waseso Y

Tidak ada komentar:

Posting Komentar