Translate

Jumat, 17 Februari 2017

Ahli Pesawat Terbang

DWI HARTANTO tidak menyangka suatu siang, saat dirinya asyik melakukan penelitian di laboratorium di Belanda, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Melihat nomor di layar, dia tahu bahwa nomor itu berasal dari luar.
Si penelepon bilang, bapak ingin bertemu. Saya sempat bingung, siapa bapak yang dia maksud, cerita Dwi ketika ditemui setelah pembukaan Visiting World Class Professor, pertemuan diaspora dari berbagai negara, di Jakarta, Senin (19/12/2016).
Sambil penasaran, Dwi menyelidiki siapa bapak yang ingin bertemu itu. Setelah diselidiki, ternyata orang yang menelepon adalah petugas protokoler mantan Presiden B.J. Habibie. Dan, yang dimaksud itu tak lain adalah B.J. Habibie.
Pria asal Yogyakarta tersebut sempat berpikir ada apa tokoh sekaliber Habibie ingin menemui dirinya. Tak lama kemudian, pertemuan dua generasi antara Dwi Hartanto dan Habibie pun terjadi Desember lalu. Pertemuan tak resmi itu berlangsung di restoran di Den Haag, Belanda.
Tentu saja, putra pasangan Chamdani dan Astri itu sangat bangga bisa bertemu berdua dengan salah seorang tokoh besar negeri ini tersebut.
Selain berbicara tentang keilmuan, Habibie meminta Dwi bersedia membantu negara meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Dwi pun menyanggupi permintaan ahli pesawat terbang tersebut. Karena itu, dia bersedia untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan stakeholder pendidikan tinggi di Indonesia.
Dalam kesempatan.
Habibie mewanti-wanti agar Dwi Jangan sampai mau pindah kewarganegaraan di Belanda. Perkara bekerja untuk perusahaan internasional atau bahkan membantu pemerintah Belanda, itu sah-sah saja.
Kamu jangan sampai mencabut jati diri dan kewarganegaraan Indonesia-mu,pesan Habibie.
Pria 28 tahun yang sebentar lagi bergelar profesor itu menyatakan Riset-riset Dwi bersama para guru besar dari Technische Universiteit (TU) Delft selama ini menggarap bidang national security Kementerian Pertahanan Belanda, European Space Agency (ESA), NASA, Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), serta Airbus Defence.
Salah satu riset sensitif yang dia garap adalah teknologi roket untuk militer dan misi luar angkasa. Dwi juga menggarap satelit untuk riset luar angkasa serta pertahanan dan keamanan (hankam).
Dia terlibat pula dalam penyempurnaan teknologi pesawat tempur Eurofighter Typhoon generasi anyar milik Airbus Defence.
Dari riset-riset yang dilakukan, Dwi telah mengantongi tiga paten di bidang spacecraft technology. Sayang, dia terikat kontrak untuk merahasiakan paten tersebut. Dia tidak bisa membeberkan tiga paten itu karena terkait dengan program strategis.
Biaya kuliah S-2 dan S-3 Dwi di Universitas dibiayai pemerintah Belanda
Sarjana Tokyo Institute of Technology itu menegaskan, dirinya tidak memiliki tips khusus saat belajar sehingga mampu meraih gelar doktor dalam usia muda.
Dia mencontohkan, ketika menggarap roket pada 2015, dirinya hanya sempat tidur 3 jam. Waktunya habis untuk melakukan riset-riset di laboratorium.
Bekal lain yang dimiliki Dwi adalah kemampuan di bidang matematika dan fisika. Saat duduk di bangku sekolah, bungsu dua bersaudara itu memang hobi astronomi. Kemampuan menguasai matematika dan fisika itulah yang mengantarkannya menjadi calon profesor di bidang aerospace engineering dalam usia yang terbilang masih muda.

Source :
http://batampos.co.id/2016/12/22/dwi-hartanto-doktor-aerospace-engineering

Tidak ada komentar:

Posting Komentar