POETRY

malam 

'bunyi ringkik jankrik menjadi teman, seperti tanpa bosan berdengin di hawa dingin sekali terdengar langkah orang berjalan, terdengar jelas karena sepi, malam semakin dingin, mari tidur membuat mimpi, dengan menghayal buatlah sorga, yang nyata bisa dilihat, seperti bahagia dan nikmat, apa yang dilihat adalah nyata, dan orang lain tak melihatnya, hanya kita yang melihatnya, indah seperti melihat pelangi, lengkap dengan tujuh bidadari, cantik nian pujaan hati, dengan kulit bening seperti pualam, dengan canda dan nyanyian gaib, berupa kalimat mantera dari langit, sehingga bisa turun ke bumi yag penuh dusta dan palsu, apa yang membuat kamu suka sekali turun ke bumi? apakah karena pemuda tampan? apakah karena permata berkilau? apakah karena cinta? apakah karena janji? apakah karena lapar?.. haus?... apakah kalian tahu, daku melakukan pengintipan? mengapa kamu mandi dari sungai yang ini dengan menanggalkan kainmu? apakah duhai bidadari kamu sedang pamer? apakah kalian diperintahkan oleh bapakmu? sehingga kamu turun ke bumi? ah sudahlah, tak usah bertanya... tak usah berpikir, karena itu akan mencapekkan, biarlah yang berpikir oranglain.. memang kita harus saling berbagi,... berbagi kenikmatan.. karena ini cuma mimpi.. sebab mimpi adalah milik bersama, mari kita tidur dan berganti mimpi yang lain, mari bermimpi, dengan mimpi semua cita cita dapat terkabul makbul...

jakarta, jagakarsa 
by dimas handono djati


' rindu ' by dimas handono djati

terlintas dalam bayang, wajahmu nan mempesona, tersenyum memberiku sedekah, yang kuingat sampai maut menjemputku kelak,dengan suaramu nan indah lembut seperti mentari di padi hari, kau mengucapkan salam padaku, bukan aku tak mau menjawab, tapi karena aku takjub dan terlena olehmu, sungguh wahai kawan, kekasih atau cinta? aku sangat rindu padamu..

cinta tersembunyi'

‘Cinta dan kasihmu berada di cakrawala, dan juga berada dalam geloranya air laut yang membanting dipantai, tersembunyi di dalam sepoinya angin yang meniup. Dan berada didalam senyumnya gadis rupawan, dan berada dalam sejuknya bulan purnama, juga berada dalam zarah dan bahkan berada dalam pusat suksma, tersembunyi tapi nyata, tak terlihat tapi terasa membelai seperti sentuhan angin, halus lembut, tapi mampu membelah jagad, mampu membelah badai…’

Jagakarsa
jakarta
Dimas handono djati

'Bermimpi'

Hari ini dunia damai,

Disaksikan burung prinjak berjingkrak-jingkrak bernyanyi merdu,
bersahut sahutan laksana pantun bersambut,
Saling siul berbalas siul,
melompat-lompat berisik memanggil rindu,
cantik meloncat ke dahan yang bergoyang,
lucu dan molek hinggap di batang daun,
kemudiam bernyanyi memanggil kangen,
dengan riang mengepak sayap,
mungil bermata kecil seperti manik-manik,
berbulu kuning, merah dan hijau seperti warna bunga,
berisik berteriak indah meriah,
terbang melompat dan meloncat riang gembira,
dengan canda dan nyanyian berkicau,
penuh suka cita dengan sepoi angin menggoyang dahan,
dengan ramai terbang ke atas terang benderang,
berhias awan putih bergulung dan langit biru,
terbang susul menyusul seperti barisan berbaris,
melayang tinggi menghias kartika angkasa,
berputar-putar, melayang kebawah, terbang ke atas bebas dan lepas,

Hari ini dunia damai,

Angin berhembus ringan, wangi semerbak harum melati,
matahari terang benderang, tak panas tak dingin,
taman sejuk, adem ayem, hijau royo royo,
bunga mawar mekar warna merah dan warna putih,
hamparan sawah membentang luas menguning,
bergoyang lembut seperti ombak menari di terpa angin,
pohon kelapa menyapa dengan daunnya melambai,
itik, ayam, bebek, keluar cari makan sendiri,
seperti burung bebas lepas terbang melayang cari makan sendiri,
ayam, bebek, itik, pulang tanpa di angon,
hujan turun tepat waktu tak pernah bohong,
bening air sungai mengalir tak pernah menipu,
dengan padi menunduk penuh beras siap di panen,
beras bagus murah meriah bergemerlap putih seperti mutiara menggunung,
cukup makan bahkan berlimpah ruah,

Tak ada perut buncit karena busung,
Tak ada perut gendut kekenyangan,
Tak ada kurus jerangkong karena lapar,
Tak ada peminta-minta karena fakir,
Tak ada pengemis compang-camping miskin,

Hari ini dunia damai,

Minyak murah, kopi, gula, susu dan madu kebeli rahayat,
lauk pauk, sayur mayur, roti keju, tak berhutang di tukang sayur,
ayam goreng sate kambing tinggal potong bebek angsa,
tepung, susu, vanili, telur ayam kampung tujuh biji,
di tambah gula pasir bikin kue,
enak di rasa, lezat di kunyah, nikmat di makan,
bikin sendiri gratis tak bayar murah meriah ceria,
bikin rame-rame sedikit bayar orang murah meriah untuk tetangga,

Hari ini dunia damai,

Gunung tinggi menjulang gagah perkasa tak ada njeblug meletup,
Tak ada gempa, tak ada stunami, tak ada tanah longsor, tak ada banjir bandang apalagi kiamat,
Tak ada penyakit, tak ada buncit cacingan,tak ada infeksi,
Tak ada demam berdarah, taka ada mata juling, tak ada mulut bau,
Tak ada gigi terlalu panjang, tak ada rambut rontok, tak ada penyakit panu,
Tak ada penyakit menular, tak ada wabah, tak ada penyakit pelupa,
Tak ada penyakit lesu, lelah, letih, lemah atau penyakit otak miring,

Tak ada benci, tak ada fitnah, tak ada bala dan mara bahaya,
Tak ada bencana,malapetaka,musibah,perang dan pembunuhan,
Tak ada orang di gantung, tak ada orang di pancung, tak ada orang di setrum,
Tak ada maling,rampog,begal,penjarahan,tukang copet dan tukan tipu,
Tak ada tengkar, tak ada berhasut,tak ada gunjing, tak ada tawuran, yang ada pameran,..
Tak ada provokator, tak ada demonstrasi,tak ada democrazy, yang ada bercinta,..

Hari ini dunia damai,

Gadis manis cantik rupawan bibir bergincu, pipi berbedak putih seperti porselen,
Wanita jelita cantik molek tinggi langsing seperti bidadari,
Pemuda tampan sehat kuat seperti ksatria,
ganteng gagah perkasa mempesona seperti bidadara,
Tidak susah, tidak sengsara dan tidak muram karena merana,
Tak resah, tak sedih, tak benci atau dengki,
Tidak gundah, tidak iri, tidak pusing, tak ada muka masam karena durjana,
Tak ada goblok, tak ada bego, tak ada idiot, tak ada biadab, tak ada lemah otak karena pandir,

Semua indah mempesona takjub kagum nikmat di pandang,
semua bahagia sentosa,sejahtera, makmur sejuk di lihat,
Semua adil makmur tentram raharja aman di rasa,
Semua cukup sandang pangan, papan sejahtera,

Hari ini dunia damai,

Sebab tanah air negaraku Indonesia adalah sorga,
Bergunung emas, bertanah perak, berbukit intan permata,
Dengan lautan Luas penuh dengan keramik, batu safir,batu merah delima,
Piala emas, piala kristal terpendam yang siap di panen,

Janji mentari terbenam sembunyi di kolong bumi selalu pasti,
Janji bulan untuk purnama terang selalu terjadi,
Janji bintang berkerlap-kerlip di langit malam tak pernah lalai,

Hari ini dunia damai,

Dengan mimpi seribu arti,
Dengan janji-janji yang terjadi,
Dengan tidur dan selimut untuk fantasi,
Dengan kasur yang empuk bantal dan guling marilah kita bermimpi,
Hari ini,.. dan untuk selamanya,.. dunia damai,...


Dimas Handono Djati.
Jagakarsa
Jakarta
Indonesia.

'jujur, patuh, setia,'

‘Siapakah kamu tersenyum manis dengan memandangku?..
Aku tak mengenalmu yang tiba-tiba ada di hadapanku,
Siapa kamu wajahmu susah dilihat karena seharusnya aku curiga.
Siapakah kamu apakah kamu seorang bapak, seorang ibu, kakek-kakek,
Nenek-nenek, laki-laki atau wanita? ‘

‘Tuanku perkenalkan hambamu ini adalah seorang pengabdi,
Mengapa Tuanku lupa bahwa aku adalah sang pengabdi?’

‘Aku tak lupa tapi permata berkilauan di jidatmu begitu terang sinarnya sehingga
Aku silau melihatmu dan aku tak mampu memandang wajahmu yang menyenangkan itu
Dan tak bisa menebak siapa kamu laki-laki atau perempuan.’

‘Kalau begitu Tuanku Paduka yang Mulia memang pelupa, kenapa tak mengenalku sang Pengabdi?’

‘Karena Aku silau melihatmu yang bercahaya terang.’

‘Tuanku yang Mulia ingatlah, aku adalah pengabdimu yang setia.’

‘Mengapa engkau menyebutku Tuanku yang Mulia, apa maumu dan apa kehendakmu?’

‘Kemauanku adalah membuat Tuanku bahagia.’

‘Aku sudah bahagia,

‘Kalau begitu hamba sang pengabdi akan membuat Tuanku bertambah bahagia’

‘Kalau begitu silahkan.’

‘Hamba akan menghibur Tuanku dengan bernyanyi’

‘Kalau begitu silahkan.’
Sang pengabdi kemudian bernyanyi :

‘Hamba haturkan kidung yang Agung kepada yang Mulia,
Pujian mengharukan dan gembira hamba tujukan pada yang Agung,
Hamba nyanyikan pujian kepada yang mengetahui tempat emas,Intan
Dan permata yang berada di gunung, bukit, lembah, sungai dan laut.
Dengarlah ini nyanyian dengan pekikkan, suara keras menggelegar
Menguak gunung dan mengeluarkan isinya berupa emas dan permata,
Dengarlah kidung kebahagiaan ini dengan nyanyian keras menggelegar
Pecahkan gunung dan cadas mengeluarkan intan berkilau.



Dengarlah senandung nada dengan suara keras bagai petir membelah sunyi
Menghalau sepi,
Dengan nyanyian indah puji-pujian untuk yang Agung semoga Yang Mulia
Tuanku Bahagia.

‘Apakah tuanku sudah bahagia?’

‘Belum.’

‘Mengapa Tuanku belum bahagia?’

‘Karena Nyanyianmu membelah gunung dan mengeluarkan isinya, kenapa begitu mengerikan.. Karena Aku yang engkau sebut ‘Yang mulia Tuanku’ ternyata saat ini
Hanya seorang budak’

‘O begitu?..ya memang, yang Mulia Tuanku memang budak yang bekerja keras mencari emas, membelah batu untuk di asah menjadi permata, yang mengais sungai menambang pasir untuk membuat istana, yang membolongi tanah untuk mendapatkan minyak, sama seperti tuan tuanku yang lain.’

‘Jadi kamu juga mengabdi pada tuan tuan yang lain selain aku?’

‘Begitulah Paduka yang Mulia…
Hamba mengabdikan diri hamba pada orang-orang baik yang diperbudak,
Hamba mengabdikan diri hamba pada orang saleh yang teraniaya,
Hamba mengabdikan diri hamba pada orang baik yang tersiksa,
Hamba mengabdikan diri hamba pada orang saleh yang tak memperoleh keadilan,
Hamba mengabdikan diri hamba pada orang baik-baik yang diperkosa dan dirampas
Haknya,
Hamba mengabdikan diri hamba pada wong Agung yang bekerja dengan cucur keringat,
Haus mencekak, lapar keroncongan, dengan di cemeti oleh terik matahari,penghinaan dan perampasan hak..dan hebatnya lagi yang membuat hamba kagum pada Tuan Tuanku itu semuanya ikhlas menerima. Hamba mengabdi pada Yang Mulia Tuanku supaya Tuanku selalu semangat bekerja dengan tanpa mengeluh rasa lelah, letih, lesu, lemah, putus asa, dan kemudian bekerja tanpa pamrih, dengan begitu pohon-pohon yang paduka telah tebang, pasir yang Paduka telah ambil, lembah dan gunung yang Paduka telah bolongin, tanah yang Paduka gali akan muncrat dan timbul banjir bandang dan longsor, gunung akan njeblug, dengan begitu asap gunung meletup yang seperti awan akan menutupi sinar matahari, dengan begitu siang menjadi gelap, dengan begitu selama berbulan-bulan
Tanaman tidak terkena sinar matahari dan panen menjadi gagal, awan gelap menyelubungi daratan muka bumi, dengan begitu dunia bagian timur, barat, utara, selatan pergantian musimnya tak teratur dan menjadi dingin beku dan gagal panen, artinya hasil pangan dunia tak cukup dan terjadi bencana kelaparan dan penyakit yang parah,



Dengan begitu semuanya akan menjadi lapar, tak peduli penguasa dan hamba, orang kaya dan orang miskin, tak peduli kakek atau nenek, pria atau wanita, dewasa atau kanak-kanak, tumbuhan atau binatang, semuanya sengsara dan semuanya mati. Sebelum mati mereka bingung tapi pura-pura tak bingung, takut tapi pura-pura tak takut, butuh tapi pura-pura tak butuh, emas yang mereka punya menjadi tak berharga, uang di bank habis di rampog, para pembantu dan pekerja mereka kabur karena tak di gaji dan tak di beri makan, pengawal mereka merampas harta dan barang berharga milik tuannya, keluarga mereka saling menyelamatkan diri berburu di alam liar untuk makanan, binatang yang di buru habis, akhirnya mereka mencongkel mata saudaranya untuk makan pagi, mereka potong paha kaki tetangganya untuk makan siang, dan kemudian mereka mencincang temannya untuk makan malam, dan kemudian mereka rebus tulang belulang temannya untuk sup dan mereka sedot sum sum tulangnya sebagai hidangan penutup. Mereka telah berubah menjadi binatang yang memakan sesamanya. Segala bangsa jin, syetan, hantu, dedemit, mahabuta dan iblis meraung-raung menangis karena sudah tak ada lagi manusia dan hewan yang akan di ganggu dan disantap. Mereka juga menjadi lapar dan akhirnya jin memakan syetan, dan syetan menyantap hantu, dan hantu memakan dedemit, dan dedemit memakan mahabuta, dan mahabuta memangsa iblis, dan kemudian iblis memakan jin. Ini semua akibat para penguasa yang telah memperbudak para tuan dan majikanku yang terhormat untuk menebang pohon tanpa menyuruh menanam kembali, mengotori sungai tanpa mensucikannya, menggunduli hutan tanpa menanam kembali di bagian yang lain, merampas hidup tanpa memberi kehidupan. luar biasa..gempar.. betapa dahsyatnya hari itu.’

‘Cukup dan hentikan, betapa mengerikan dan jorok ocehanmu itu, sekarang jawab pertanyaanku, bagaimana dengan aku, kamu dan tuan-tuanmu tempat engkau mengabdi?’

‘O Yang Mulia Tuanku Paduka, pada saat itu Yang Mulia dan Hambamu ini sudah tidak ada lagi karena daging pada tubuh yang Mulia dan Hamba ini telah berubah menjadi gunung-gunung yang pernah kita lobangi, dan darah Yang Mulia telah berubah menjadi air sungai yang jernih, dan tulang belulang Paduka Yang Mulia telah berubah menjadi pohon, bukit dan ngarai, keringat kita yang dulu bercucuran telah berubah menjadi harum bunga semerbak wangi Saffron..’

‘Dan bagaimana dengan mereka yang telah memperbudakku?’

‘Paduka Yang Mulia dengan sangat menyesal hamba memberitahukan bahwa mereka telah tiada karena telah di makan sebagai santapan sesama mereka dan kemudian kembali di keluarkan sebagai kotoran untuk menjadi pupuk tanaman, mereka sangat berguna untuk tanah di bumi ini pada waktu yang akan datang.’

‘Jadi.. bumi tempat kita berpijak masih ada diwaktu yang akan datang?’

‘Begitulah Paduka Yang Mulia, semua disediakan untuk Paduka Yang mulia.’


‘Jadi aku akan mendapat kebahagiaan?’

‘Begitulah Yang Mulia.’

‘Jadi aku akan mendapatkan kesejahteraan?’

‘Begitulah Yang Mulia.’

‘Jadi.. aku akan mendapatkan Kemuliaan?’

‘Begitulah Paduka Yang Mulia.’

‘Kapan semua akan terjadi?’

‘Semua akan terjadi melalui proses dan lakon, oleh karena itu supaya terjadi Paduka Yang Mulia harus menjadi budak yang baik, Jadilah budak yang patuh walau tertindas, jadilah budak yang kuat walau tak makan, jadilah seorang budak yang jujur walau tak di gaji, jadilah seorang budak nafsu yang setia melayani birahi Tuanmu tanpa merasa terhina, Jadilah seorang budak yang rajin walau di pecut, Jadilah seorang budak yang ikhlas tanpa pamrih, jadilah seorang budak yang tanpa mengeluh capek, lesu, lelah, letih dan lemah, Karena semua ini adalah lakon yang harus dilalui oleh Paduka yang Mulia untuk memperoleh keselamatan, kesejahteraan, kemakmuran, kemuliaan dan kehormatan di waktu yang akan datang..

Karena semua ini adalah… Karma…


Dimas Handono Djati.
Jagakarsa
Jakarta selatan
Indonesia.

sang ratu lebah

oh wajahmu mempesonakan membuatku terbuai dalam sukma yang terlena oleh rindu,dalam bayangan seorang terkasih yang membelai impian dengan selimut yang bernafas,sentuh mu menggetarkan jiwa,suaramu seakan membelah malam, dengan rintihan yg tersendat merdu,di malam itu sungguh daku seperti di syurgawi dengan engkau sebagai ratu yang di kelilingi para pejantan, memang dikau adalah sang ratu lebah.


jagakarsa. Jakarta
by dimas handono djati

' Sahabat Yang setia '

Ketika sepi mencekam yang menggigit,
Saat sendirian di tengah hamparan kosong,
Ketika bermimpi bahagia dengan gairah,
Ketika melepas penat kelelahan mengantuk,

Kamu menemaniku dengan setia.

Ketika matahari bersembunyi di kolong bumi,
Dan bintang yang seperti permata menyala di atap malam,
Dengan suara jangkrik meringkik berisik,
Dan malam mulai merangkak,
Dengan sayup suara perempuan yang merintih merdu,
Dan mengerang penuh kenikmatan,
Silih berganti dengan suara katak,
saling bersahut memanggil cinta,
Dan malam mulai dingin,

Kamu di peluk,

Ketika rindu tak mengelak,
Dengan kenangan yang terperangkap,
Dan keindahan yang mengkhayal,
Dengan cemburu yang menghanyut,
Dengan keangkuhan yang tersembunyi,

Kamu di cium,

Ketika air mata mencair, seperti embun yang menetes,
Dengan kesedihan yang membelenggu,
Dengan tangisan yang menindih,
Dan rasa kecewa yang menghujam,
Dengan perasaan malu yang terpendam,

Kamu di sebelah pipiku,

Ooh,.. Betapa aku butuh kamu,
Betapa para Wali dan para sufi butuh kamu,
Betapa para Raja dan ratu butuh kamu.
Dan para Pangeran dan Pangeran putri butuh kamu,
Dan Pimpinan dan para penguasa butuh kamu,
Alexander the great, Jengiz Khan, Akbar the Great, Napoleon Bonaparte juga butuh kamu,
Dengan Para Sultan yang berhias wanita selir bertahtakan intan permata juga butuh kamu,
Dengan para gembel dan para fakir berhias rumah gubug bertaburan sarang laba-laba juga butuh kamu,

Ooh,.. Betapa besar jasamu!..

Apakah kamu tahu berapa milyar orang di dunia ini yang mendekapmu setiap malam?
Apakah kamu tahu berapa pemuda yang menindihmu merindukan gadis?
Apakah kamu tahu berapa Janda yang memelukmu merindukan suami?
Apakah kamu tahu, bahwa kamu menjadi saksi perbuatan cinta pelepas hasrat gairah asmara?
Apakah kamu tahu, berapa juta para pemuja yang menghiasimu dengan kain sarung terlukis idola idaman?

Ooh Bantal terima kasih !

Wahai bantal betapa besar jasamu pada dunia,
Ooh bantal, betapa kamu berguna bagi insan di dunia
Wahai bantal, patutkah para penguasa bumi memberimu tanda jasa?
Ooh bantal, cukupkah para pemimpin menghiasimu dengan penghargaan?
Wahai bantal, apakah kamu dapat pahala karena jasamu?
Ooh bantal, apakah kami berdosa jika kami mencampakkanmu ke tempat sampah?
Wahai bantal, apakah kamu akan masuk syurga karena jasamu?
Ooh bantal, apakah ada kamu di Syurga kelak?

Ooh bantal,

Apakah kamu akan di peluk oleh bidadari dan bidadara di syurga kelak?

Ooh bantal, terima kasih!..
Kamu sahabat setiaku,

Hidup bantal!.. Panjang umur bantal!.. Selamanya!..


Dimas handono djati
Jagakarsa, jaksel,


' Pemujaan '


Saat itu di pagi yang indah,
Dengan seragam necis dan harum parfum di ketiak,
Dengan gadis manis yang putih berbedak,
Dengan pemuda tampan yang seperti ksatria, dengan barisan yang rapih,
Disaksikan kicau burung dan sinar mentari,
Dengan tanpa senyum tapi khidmat,
Dengan kebersamaan dan kepatuhan,
Mata melotot memandang keatas,
Tanpa kedip memandang ke arahmu,
Seperti dengan rasa takjub,
Engkau di hormati…
Ketika itu di pagi yang cerah,
Dengan sinar matahari yang hangat,
Dengan kepatuhan dan disiplin,
Dan pasukanmu yang gagah,
Dengan prajuritmu yang berani seperti lebah,
Di iringi orkes musik dan nyanyian koor yang merdu,
Engkau di puja…
Saat engkau di naikkan dengan perlahan dan teratur,
Beribu-ribu pasang mata memandangimu,
Dan para Presiden di seluruh dunia memberi hormat,
Dengan para mentri yang juga memberi hormat,
Dengan khusu dan patuh,
Tanpa mengeluh dan lelah, berdiri tegak untukmu,
Engkau di kagumi..
Saat ketika engkau di campakan,
Dengan kerendahan yang menghina,
Dengan orang – orang ramai yang berteriak,
Penuh dengan sumpah serapah,
Dengan api terpendam dendam kesumat,
Dengan nyanyian caci dan maki,
Dengan yel penghinaan yang sombong,
Tapi engkau tak merasa terhina oleh mereka yang goblok dan pandai itu,
Padahal engkau telah rombeng dan di koyak,
Dan pemujamu melakukan rapat,
Dengan pengagummu yang merasa terhina,
Dan penggemarmu yang merasa marah,
Dengan pelindungmu yang merasa di nodai,
Mereka merasa di tampar ke hormatannya,
Karena engkau compang camping seperti gombal,
Dan pasukanmu siap siaga,
Menunggu waktu dan perintah,
Saat itu engkau di bela…
Ketika damai berjabat tangan,
Dengan peluk dan cium,
Dan engkau di kembalikan ke mahligaimu,
Berupa benda panjang yang kokoh seolah akan menyentuh awan,
Dengan tali yang kuat seperti benang baja,
Dengan perlahan engkau di naikkan ke tempat yang tinggi,
Dengan pasukan gagah berpedang mengelilingimu,
Siap menjagamu dari maling ,rampog, penjarah dan penghinaan,
Engkau laksana jimat berharga yang patut di jaga,
Seperti barang keramat sakti yang hampir di miliki setiap bangsa,
Engkau terkenal dan di hormati melebihi para Sufi,
Engkau dikenal dan di puja melebihi para Wali,
Karena seluruh orang di kolong awan mengenalmu dan menghargaimu,
Karena semua orang di dunia menghormatimu,
Dengan para Raja dan Ratu yang bergemilang intan permata,
Dengan Para Sulthan dan Para Pangeran yang duduk di kursi emas,
Dan Para Presiden dan Jendral dengan pasukannya,
Tak kecuali para orang kaya dan fakir miskin,
Mereka semua mengenalmu,
Dan mereka semua menghormati,
Apakah engkau semacam Dewa sehingga manusia merasa perlu memujamu?
Apakah engkau semacam Dewi yang turun dari Kahyangan sehingga manusia merasa perlu menjagamu?
Apakah engkau semacam Bidadari sehingga manusia merasa perlu memilikimu dan menghormatimu?
Apakah Engkau semacam Dewa yang dapat mengabulkan permintaan?
Apakah engkau dapat mendatangkan bahagia, cinta, kesenangan, pangkat, jabatan atau kekayaan?
Apakah engkau dapat menolak gempa, tsunami, angin topan, atau menolak penyakit demam berdarah dan kemiskinan?
Apakah engkau begitu cantik jelita sehingga Para Pimpinan dan Para penguasa memandangimu seperti terpesona penuh kekaguman?
Mengapa Para jendral di muka bumi ini menganggapamu seperti benda yang di muliakan?
Mengapa mereka begitu terpana bila melihatmu bergoyang?
Para seniman terkemuka dan selebriti tak ada arti Jika dibandingkan denganmu,
Maestro Picaso tak punya arti di banding lukisanmu yang di kenal semua manusia,
Michael angelo tak punya nama di banding gambarmu yang di kenal semua orang,
Rembrandt Harmensz Van Rijn kalah nama di bandingkan dengan warnamu,
Raden Saleh tak sebanding dengan ke masyhuranmu,
Padahal kamu Cuma sepotong kain berwarna warni,
Ada yang biru, ada yang merah, ada yang putih,
Bergoyang dan berlenggak lenggok seperti berdansa di tiup angin,
Miring ke kanan, miring kekiri melayang di udara,
Seperti angkuh, Agung nan perkasa,
Di tempat yang tinggi di atas sana berhias awan dan langit biru nan indah,
Sepotong kain yang bermakna sejarah,
Laksana Azimat suci dengan kesaktian bertuah,
Yang di miliki setiap bangsa dan Negara,
Dan Komandan pasukan di seluruh dunia mereka gagah berteriak lantang :
“Hormat benderaaa… Geraaak !”
“Oo, Bendera betapa hebatnya engkau yang di puja seperti dewa...”

Dimas Handono Djati
Jagakarsa
Jakarta Selatan
Indonesia.

'Penikmat cinta'


dia menderita karena cinta

dia bahagia karena cinta
dia menangis karena cinta
dia tertawa karena cinta
dia berhutang karena cinta
dia melamun karena cinta
dia sering bercermin karena cinta
dia sering mandi karena cinta
dia marah karena cinta
dia sering melamun karena cinta
kemudian dia sering berkata :


'akan ku gapai dan kuraih cahaya bersinar yang melayang dilangit,
 akan ku kejar kilat buana yang membelah angkasa,
 akan ku tangkap panah berapi yang melintas di langit,
 akan ku raih sinar bulan purnama yang tersenyum

 akan ku gapai bintang gemerlap dikala malam, semua itu hanya untukmu

 tapi ternyata semua itu tak bisa,
 sesak aku bernafas jika ingat padamu
 mengapa dimana mana muncul wajahmu?
 ketika aku minum tampaklah wajahmu di gelasku
 ketika aku mandi sendirian kau meringis dihadapanku
 ketika aku bercermin senyum manismu tersungging didepanku
 ketika aku belajar matamu tampak di buku
 ketika aku mendengar musik, suaramu terdengar sayup sayup
 aku tak bisa meraihnya, aku tak mampu meraihnya,
 karena bintang gemerlap itu cuma mimpi,
 aku tak mampu meraihnya,
 karena kilat buana jauh di samudra angkasa raya,
 aku tak bisa meraihnya,
 karena panah berapi dilangit itu cuma ilusi tak bisa dikejar,
 aku tak mungkin meraihnya,
 karena sinar bulan purnama bukan milik ku seorang tapi milik banyak orang

 padahal aku tahu semua itu percuma,
 memang.. semua gara gara kamu!
 Penghisap habis kenikmatan penuh polesan palsu,
 perayu ulung pembangkit malu yang tersembunyi,
 bermulut manis bertutur lemah lembut,
 penakluk lelaki dengan mantera pembangkit birahi,
 penikmat raga penghisap jiwa pria,
 pergi tak berkabar setelah meraih keperjakaan dan intan permata,
 menghilang seperti peri setelah meraih kepuasan dan uang sekarung,
 meninggalkan bayangan berupa senyum di cermin,senyum di mimpi,senyum di kamar mandi dan senyum di
 mana mana,..
 pergi kamu hai bayangan tersenyum!
 aku tak butuh belaimu, memang dulu aku mengatakan kau jelita bak bidadari,
 sekarang aku tahu kau jelita dari comberan!
 aku tak butuh cium darimu,
 karena kini aku tahu gigimu bertaring iblis penghisap darah,
 enyah kau dari hadapanku!
 merinding aku karena ingat padamu,
 sekarang aku tahu kau nenek sihir tengkorak laknat!
 menyesal aku tak berujung bahagia..'
 memang..
 dia tersenyum karena cinta,
 dia menangis karena cinta,
 dia melarat karena cinta,
 dia sering tak berpakaian karena cinta,
 dia tertawa sendirian karena cinta,
 dia bau tak mandi karena cinta,
 dia pergi meninggalkan rumahnya dengan tanpa celana karena cinta,
 dia menjadi pengelana karena cinta,
 dia menjadi tak peduli karena cinta,
 cinta, cinta,cinta, cinta, cinta...
 cinta yang merana..



 Jagakarsa

By Dimas Handono Djati