NOVEL

                                            
                                                       HANDPHONE

“Bagaimana rasanya cinta Om?”  Tanya Wawan pada Pamannya.
“Cinta apa?”  Pamannya balik bertanya sambil menyulut api ke rokok yang menempel di bibirnya.
“Jadi..Om tidak pernah jatuh cinta?”
“Sering .”  Jawab Pamannya dengan acuh.
“Nah, rasanya gimana?”
“Rasanya enaaak deh,seperti kecanduan.”  Jawab Pamannya sambil kembali menghisap rokok dan meniupnya perlahan sehingga asapnya membentuk huruf O yang semakin lama semakin membesar dan menghilang, Dia meneruskan,
“Rasanya bingung,stress,penuh harap,berkhayal,merasa goblok,merasa pintar,cemburu,sering bercermin,merasa tampan dan..”  Dia berhenti dan kembali menghisap rokoknya,dia memandang keatas.
“Dan apa Om?” Tanya  Wawan.
“Dan Nafsu.” Jawab Pamannya dengan santai.
“Jadi cinta itu nafsu?”  Wawan membuat kesimpulan.
“Tidak selalu.” Kata Pamannya.
“Yang singkat aja Om, cinta itu gimana rasanya?”
“Dari tadi sudah saya bilang..rasanya enaaak deh! Sayang dan saling sayang.”  Jawab Pamannya
“Oo begitu, jadi saya tak bersalah .”  Kata Wawan sambil tersenyum.
“Eh..? kenapa kamu Wan? Apa kamu berbuat salah?”  Pamannya memandang wajah Wawan dengan tatapan penuh pertanyaan.
“Oh tidak saya Cuma salah kalimat.” Kata wawan.
“Aduhh..” pamannya berkata dengan suara perlahan dan hampir tak terdengar,  “kalau gitu benar isu yang beredar dan sampai kekupingku, kamu memperkosa, itu berarti kamu bersalah!”  kata pamannya dengan suara yang semakin meninggi dan melengking,
“Kamu bersalah, karena telah melakukan pemaksaan seksual” Kata Pamannya memancing.
“aah tidak!”  Wawan berusaha tenang dan terlihat tidak santai.
“Kamu telah memperkosa,,, Kamu harus tahu bahwa perkosaan  merupakan pelanggaran hokum yang sangat serius!”  Kata Pamannya dengan suara yang rendah tapi tajam.
“Ah tidak!.. itu tak benar, itu berita bohong, jangan menuduh, itu fitnah!”  Kata Wawan.
“Kalau bukan perkosaan lantas apa dong?”  Tanya Pamannya.  Wawan termenung beberapa saat, kemudian,
“Dia yang duluan..”  jawab Wawan dengan perlahan sekali.
“I ya.. dia itu siapa?”  Tanya Pamannya.
“Li..na..” Jawab Wawan dengan suara hampir tak terdengar.
Pamannya membuang nafas panjang, Dia menyandarkan punggungnya ke sofa yang empuk dan meluruskan kedua kakinya ke bawah meja yang berada di depannya.
Dengan seksama dia mengamati wajah keponokannya itu,’dapat satu point’ katanya dalam hati.  Menurut pengamatannya, Wawan adalah orang yang tak pintar untuk berbohong. Usianya tujuh belas tahun dengan tinggi badan seratus delapan puluh lima senti meter.  Sejak usia Sembilan tahun secara rutin melakukan kegiatan olah raga renang yang membuatnya kini memiliki tubuh yang atletis.  Rambutnya yang berwarna hitam arang berpotongan pendek rapi.  Dia memang mempesona dan lembut.  Pemuda tampan banyak tapi dia memiliki pesona tersendiri.  Mungkin karena pesona itu seperti sihir sudah tentu banyak gadis teman sekolahnya atau teman lainnya yang terperangkap oleh pesona itu.
Wawan bukanlah tipe perayu yang handal tapi Pamannya yakin bahwa Wawan tidak memiliki kemampuan daya tolak terhadap rayuan wanita yang akan mencumbunya.  Untuk yang satu ini perlu tindakan penyelidikan yang lebih lanjut ‘supaya tuntas’ Kata Pamannya dalam hati,
“Dia hamil berapa bulan?!!”  Sambil menunjuk kearah perut Wawan, Pamanya kembali menggunakan metoda kejutan pada pertanyaan berikutnya.
“Ah masa sih begitu saja bisa hamil?”  Diluar dugaan Wawan menjawab dengan tanpa emosi,  “kalau hamil itu urusan dia.”
“Ya harus tanggung jawab dong!”  Kata Pamannya dengan suara tegas,
“Yach sebentar lagi keponakanku akan menjadi bapak. Saya senang mendengarnya.  Selanjutnya kita harus melakukan pertemuan keluarga dan mempersiapkan pernikahanmu.  Oh ya  pertama kamu harus kenalkan gadis itu kepada keluarga kita,siapa itu tadi namanya, tentu saja cantik ya! Kita harus mengadakan pertemuan dengan orang tuanya dan kamu harus melamarnya kemudian kita membicarakan hari jadinya.”
“Haaaa?!..”  Wawan memotong, “Menemui orang tuanya?.. saya belum siap!,gimana ini belum tentu dia hamil! Saya belum siap menikah!.. saya masih sekolah! Saya belum siap jadi bapak bapak!.. masa Cuma begitu hamil?”  Wawan terliha gugup dan matanya membesar seperti mata sapi. Dia mulai tampak gelisah,  “dan juga mama, saya rasa mama juga tak setuju atau nanti panic atau nanti.. ah.  Pokoknya saya belum siap.  Kasihan mama, dia terlalu banyak problem.  Pokoknya saya belum siap, Om kenapa begitu sama saya?..”
“Begitu kenapa?”  Tanya Pamannya sambil memicingkan matanya.
Om memaksa saya! Ini pemaksaan namanya, ini intimidasi.. saya ngga suka di paksa menikah!”   Wawan terlihat emosional, dia gelisah, dia merubah posisinya duduknya dan tampak risih.  Pamannya memandang dengan senyum yang misterius.
“Ini bukan soal intimidasi tapi soal Tanggung jawab.”  Kata Pamamnnya dengan suara datar,  “Kamu seorang pria, masih muda.  Masih banyak didunia ini yang akan kamu pelajari.  Masa depanmu masih panjang dan kamu harus belajar bagaimana itu yang namanya ‘tanggung jawab’.  Kamu harus berani menghadapi kenyataan bahwa gadis itu telah hamil, dan ini terjadi diluar nikah, dan sekali lagi ini adalah hasil perbuatanmu yang merasa keenakan!”  Pamannya terus memperhatikan Wawan dan tampaknya pamannya tersebut menikmati dengan senang kegelisahan Wawan yang terlihat tertekan dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
“Ah.. saya ngga melakukan apa apa sama dia.”  Kata wawan.
“Lantas kenapa bisa hamil?”  Tanya Pamannya.
“Itu bohong!.. saya bukan orang bodoh yang bias di tipu,.. saya seorang yang berpikiran dewasa dan punya cukup banyak pengetahuan tentang wanita dan sex.  Saya sering membaca di majalah atau artikel di Koran yang ada pengetahuan tentang sexology.”  Jawab Wawan.
“Posisi kamu waktu itu dimana?”  Tanya Pamannya berusaha menjebak.
“Posisi apa? Jangan ngawur Om!”  Kata  Wawan.
“Posisimu ada diatas atau dibawah waktu itu?  Pamannya terus bertanya,  “kamu ada diatas atau ada dibawah wanita itu? Atau main kuda kudaan begitu?  Katanya ngerti soal itu?!.. katanya kamu banyak pengetahuan karena sering membaca di majalah dan Koran yang membahas soal sexology dan wanita?!.. mana buktinya? Di atas atau dibawah saja kamu ngga tahu,  itu orang bodoh namanya!”
“Tentu saja saya tahu!” Wawan menjawab dengan tegas.
“Nah… dimana posisi kamu waktu itu?”
“Di bawah!”   Jawab Wawan dengan yakin.
“Oo begitu..jelas sekarang.  Bahwa benar gadis itu telah hamil!”  Kata Pamannya.
“Ya ngga mungkin!”  Kata Wawan.
“Mungkin saja, bahkan pasti!”  Kata pamannya.
“Tak mungkin!”
“apa kamu yakin wan?”
“Yakin… saya yakin.”  Wawan menganggukan kepalanya sedikit.
“Oo gitu.. sebaiknya kamu temui gadis itu dan tanyakan apakah dia hamil, ini hanya untuk memastikan.”
Kan tadi saya sudah bilang,saya yakin dia tidak hamil.  Kenapa Om Tanya lagi?”
“Karena yang hamil dia bukan kamu.”  Kata pamannya dengan suara yang datar, “Perlu bukti bahwa dia hamil atau tidak.  Atau.. saya sendiri yang tanyakan ke wanita itu?!”  Mata pamannya menjadi besar.
Wawan tampak ragu ragu, dia memicingkan matanya, dengan tangan kanannya dia menyeka rambutnya,  “Ah tak usah, biar saya sendiri yang tanyakan.”  Kata wawan sambil menggaruk kepalanya walaupun tidak gatal,  “perlu bukti,perlu bukti?.. jadi saya harus membuktikan kalau dia hamil?”  Kata wawan masih belum mengerti.
“Ya tuhan.. maksud saya perlu bukti kalau wanita itu hamil atau tidak…Wawan!”
“Caranya gimana Om?”
“Aduuuuh!..” Pamannya menunduk sambil berpura-pura berpikir layaknya orang bijak. Dia kemudian memegangi kepalanya sendiri yang rambutnya mulai rontok. Dia kemudian memijit kepalaya secara perlahan. Beberapa saat kemudian mereka berdua terdiam.  Wawan menatap pamannya kemudian bersandar pada kursi. Kedua tangannya dia silangkan dibelakang kepalanya.  Dia menatap ke atas dan tampak mulai santai.  Mata bening berwarna coklat tua itu kemudian beralih pandang kembali menatap ke arah pamannya dengan tanpa rasa bersalah sama sekali atau menanggung beban,
Om.. bagaimana caranya?”
Pamannya kemudian menatapnya,
“Ahh terserah kamu bagaimana caranya!.. Pintar pitarnya kamu dong.”  Jawab pamannya dengan kalem,
“Sebaiknya kamu temui dia lalu kamu tanyakan dengan sopan dan tenang.  Jangan langsung bertanya soal perutnya yang berubah bentuk tapi ajaklah dia mengobrol dengan pembicaraan yang ia sukai, tentang lukisan atau tempat yang senang ia kunjungi atau tempat yang nyaman atau tempat yang menyenangkan.”
“Kenapa tidak langsung saja Om?”
“Jangan wan, karena biasanya seorang gadis yang sedang hamil atau di isukan hamil diluar nikah merasa tertekan,bingung, atau depresi begitu. Kalau bias,sering sering temui dia dan ajak jalan, mengobrol ngalor ngidul baru kemudian pada inti masalah kalian berdua.”
“Ok Om.
“Kapan Wan kamu akan menemuinya?”
“Saya telfon dulu, mungkin besok saya akan menemuinya.”
Mereka berdua terdiam beberapa saat.  Tidak ada suara apapun kecuali detak jam besar setinggi manusia yang terbuat dari kayu. Mereka berdua berada diruang keluarga yang bersebelahan dengan ruang tamu.  Tinggi langit langit ruang keluarga itu sekitar tiga setengah meter.  Sebagian dinding ruangan itu dilapisi dengan kayu papan yang di plitur berwarna bening dengan urat kayu yang tampak jelas.  Lantainya terbuat dari marmer tulung agung berwarna putih yang ditutupi permadani berwarna merah marun buatan dalam negri dengan desain Persia.  Sisi dan siku permadani itu bermotif daun dan bunga kecil.. tepat ditengah ruangan diatas permadani itu diletakkan meja besar terbuat dari kayu pohon palm yang mengkilat bersih.  Dikedua sudut ruangan diletakkan meja kecil yang tinggi yang diatasnya diletakkan vas kaca yang bening berisi bunga sedap malam yang setiap satu atau dua hari sekali diganti dengan bunga mawar atau bunga anggrek putih kegemaraan Nyonya Darmanto, Istri Pamannya Wawan.

                                                Bersambung

Suasana hening sesaat di ruang keluarga itu berubah dengan munculnya Nyonya  Darmanto dari balik pintu sambil membawa nampan yang diatasnya terdapat tiga gelas panjang minuman dingin.
“Diminum Wan.”  Katanya dengan lembut setelah meletakkan minuman itu diatas meja.
“Terima kasih bude.”  Kata Wawan.
Nyonya Darmanto mengenakan kemeja lengan pendek dengan motif bunga besar  berwarna hitam dan putih yang hampir mirip batik.  Rok lebar berwarna putih menutupi bagian bawahnya.  Rambutnya yang hitam lebat di ikat keatas dan digulung kecil.  Wajahnya yang lonjong dengan alis mata yang  telah dicukur atau memang alis matanya  tipis dengan bulu yang jarang dia pertebal dengan pensil khusus alis mata.  Hidungnya kecil dan tidak pesek.  Nyonya Darmanto terlihat rapih dan segar.  Dia kemudian duduk di kursi yang bersebelahan dengan Wawan.
“Mama kabarnya gimana Wan?”
“Baik bude.”  Jawab Wawan sambil tersenyum.
“Kalau mama pergi ke kantor siapa yang memasak?”
“Kita sering beli diwarung.”  Jawab Wawan
“Mau aku bawakan makanan untuk makan malam Wan?”
“Tidak usah Bude, jangan repot-repot.”
   Nyonya Darmanto berdiri dari kursi dan kemudian meninggalkan mereka berdua.  Tercium sedikit harum parfum diruangan itu.  Wawan mengambil minuman dingin yang diletakkan di meja dan meneguknya.  Dia merasa segar, pandangannya terasa terang di sore itu.  Wawan melihat ke arah Pamannya yang  juga sedang meletakkan gelas yang isinya telah habis di minum.
Om..”  Kata Wawan dengan sedikit berbisik,
“Tolong jangan beritahu soal itu sama Bude ya..”
“Tenang Wan.. saya tahu masalah yang kamu hadapi belum tentu benar.  Sebab saya masih perlu bukti.”
“Ya Om.. pokoknya jangan ceritakan kesiapapun termasuk mama.”
“Jangan Khawatir Wan, sebab belum tentu semua benar.”
“Maksudnya gimana Om?”
“Ya belum tentu  benar kalau dia hamil.”  Kata Darmanto mengulang kalimatnya,  Dia melanjutkan,
“Mana mungkin Wawan menghamilinya  ya  kan?.. mana mungkin kamu mampu..mana mungkin ada wanita yang suka dan mau digituin sama kamu, mana mungkin ada wanita yang  mau sama pria yang lemah seperti kamu?!”
“Apa.. saya?.. lemah?..”  Kata Wawan.
“Ya.. kamu pria yang lemah gemulai.  Kamu seperti banci,  Cara berbicara, gerak gerikmu seperti pria penyuka sesama.”
Mendengar itu Wawan tersinggung, Dia merasa di remehkan, dia merasa direndahkan,
“Jangan ngawur Om.
“Yang Ngawur itu siapa Wan?”
“Ya Om yang ngawur!..lihatlah ..ini pria maskulin, juara renang dan olah ragawan yang ulung.”  Wawan mengangkat kedua lengannya seperti seorang olah ragawan angkat besi, dia kemudian mengencangkan otot kedua lengannya sehingga tampak sedikit ototnya yang mengencang,
“Nih.. siapa yang lemah siapa yang tak suka dengan badan seperti ini?”
“Soal juara renang, itu sudah beberapa tahun yang lalu, dan saat ini kamu tampak tak seperti dulu, lagipula badan atletis  bukan jaminan Wan.”
“O begitu, pada umumnya suka ya kan?”  Kata Wawan.
“Tidak selalu Wan,”  Darmanto berhenti sebentar kemudian melanjutkan,
“Ya ngga apa apa deh, itu memang keyakinanmu..siapa tadi nama pacarmu?”
“Pacar?”  Wawan terheran.
“Pacar itu artinya kekasih.. ya Wawan yang terhormat.”
“Dia bukan pacar saya Om.. Kita ngga pacaran.”
“Aduuuh pemuda sekarang!..enak sekali ya?! Meniduri anak gadis orang ngga mau tanggung jawab!”  Darmanto berhenti sebentar dan kemudian melanjutkan kalimatnya dengan sedikit berbisik,
“Jangan jangan… apa dia orang bayaran?”
“Jangan gitu Om, Dia wanita baik baik, wanita professional, wanita karir, dia seorang direktur marketing.”
“Berapa lama kamu kenal dia Wan?”
“Eeh.. sekitar.. dua bulan.”  Wawan tampak berpikir.
“Dua bulan?.. berapa kali pertemuan? Dan tentunya tidak setiap hari ketemunya Ya?.. Apa kamu yakin dia wanita karir eh direktur begitu?
“Yakin Om.”
“Yakinnya gimana Wan?”
“Dia kaya raya, mobilnya bagus, tinggalnya di apartment mewah, dia sayang sama saya, eh saya rasa saya juga sayang sama dia.  Apa ini namanya cinta.”
Wawan tampak berusaha mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain.
 “Sayangnya terhadapmu seperti apa Wan?”
“Ya perhatian, ini baju kaos dia yang belikan, ini telfon genggam dia juga yang belikan.  Katanya saya harus makan makanan yang sehat dan cukup gizi.”
“Itu betul Wan, kamu seorang olah ragawan harus makan makanan yang sehat dan bergizi untuk menunjang kegiatanmu terutama minum susu segar. Susu segar banyak sekali gizinya.”
“Ya susu segar juga, pokoknya yang bergizi.”  Wawan menambahkan.
“Jadi selama kamu berteman dengannya, kamu selalu mendapatkan susu segar ya Wan,  Susu apa Wan?”
“Ngga selalu Om, tidak rutin, itu.. susu yang ada tambahan multy vitaminnya, makanan tambahan padat gizi khusus untuk olah ragawan. Bentuknya seperti tepung bubuk, diminum dengan campuran susu segar, harganya mahal, aku tak mampu beli secara rutin.”
“Beli?..tak usah beli.. kan dapat gratisan?!”
“Maksud Om gimana siy?”
“Ya gratis.. gratis itu ngga bayar ya Wawan yang terhormat!”
“Ya memang begitu kenyataannya, itu namanya sayang.  Kita saling menyayangi.  Kalau saya punya uang,saya juga kadang belikan sesuatu untuknya.  Hanya beda nasib, dia punya pekerjaan yang baik.  Jadi saya tak berbuat kesalahan ya kan?”
“Dia bekerja di perusahaan mana Wan?”
“tidak tahu Om.”  Wawan menggelengkan kepalanya.
“Kamu belum banyak tahu tentang mereka ya Wan.”
“Ya.. baru kira kira dua bulan.”
“Kata kamu dia bekerja bagian marketing?”
“Marketing director.”  Wawan menambahkan.
“Berapa usianya Wan?”
“Dia berusia sekitar dua puluh lima tahun.”
“Dua puluh lima tahun?.. apa kamu tidak salah Wan..usia dua puluh lima tahun sudah jadi direktur?”  Mata Darmanto membesar,  “Kenapa kamu suka yang lebih tua dari usiamu Wan?”
“Barusan saya bilang baru dua bulan perkenalan, pada mulanya saya tidak tahu berapa usianya. Pertama ketemuan dulu kemudian saling mengenalkan diri, baru omong-omong. Baru curhat begitu Om prosedurnya.”
“curhat itu apa Wan?”
“Curhat itu curahan hati, o ya Om dar, itu orang angkatan lama ya, kita beda generasi, bahasa yang kita gunakan tentu beda, bahasa gaul kaum muda sekarang banyak kalimat yang disingkat.”
“Jadi kesimpulannya, kamu ngga pacaran tapi saling sayang ya Wan.”
“Nah.. itu namanya persahabatan Om..”  Kata Wawan dengan perlahan.
“Persahabatan yang baru dua bulan?.. yach tak apalah.. itu memang urusanmu ya Wan, dia sebenarnya sudah tak bisa dikatakan gadis perawan kencur lagi tapi, dia seorang wanita professional, dia wanita dewasa, wanita karir.”

                                                     BERSAMBUNG
                                                                    
            ‘Handphone’
            Created by Dimas Handono Djati


-->
           
            Nyonya Darmanto muncul dari balik pintu sambil membawa tempat makanan yang terbuat dari
            plastik. Dia berjalan         
dan meletakkan rantang plastik itu diatas meja yang berada didepan Wawan.
“Wah bude, banyak sekali! Terima kasih bude.”
“Ah biasa  Wan.”
“Sering sering ya bu de.”
“Aku bawakan kamu daging rendang,sayur daun papaya, ikan gurame goring saus kecap kesukaan ibumu.”
“Saya juga suka bu de.”
“O entu saja, tapi sayang sekali saya tak bawakan untukmu susu segar ya Wan!”
   Nyonya darmanto memandangi suaminya dan kemudian dia duduk disebelah Wawan,
“Mama kalau pulang jam berapa Wan?”  Tanya Nyonya darmanto sambil bersandar di kursi yang besar itu.
“Kadang sampai jam sebelas malam bude.”
“Apa kamu sering pulang malam atau mama pulang duluan?”
“Kadang saya duluan kadang mama duluan.”
“Kenapa mama sering ganti nomor handphone ya?”
“Mungkin simcardnya kedaluwarsa lalu kita beli kartu yang baru, kadang kita tukar pinjam HP.”
“Apa kamu sudah punya pacar Wan?”
“Pacar?”  Wawan balik bertanya.
“Pacar, atau ehm, kekasih, orang yang kamu cinta!”
“O itu yaa, baru proses.”
“Apa itu proses, pertanyaan saya sudah punya atau belum?”
“Sudah.”  Jawab Wawan ragu ragu.
“Kenalin bu de yaa.”
“Ya kapan kapan deh, kalau dia mau saya ajak kesini ya!. Bu de, aku mau pulang dulu ya nanti terlalu malam,”  Wawan berusaha menghindar, “Aku harus bawa makanan ini supaya tetap segar.”
“terlalu malam?, ini sore hari belum malam, kenapa kamu terburu buru?”
“Aku ada janji.”  Jawab Wawan sekenanya.
“begitu.. salam untuk mama ya.”
Wawan berdiri dari kursi diikuti Nyonya Darmanto dan suaminya.  Darmanto menyuruh sopirnya untuk mengantar Wawan pulang.  Di pintu pagar depan rumah,  Wawan memasuki mobil box berwarna putih yang terdapat tulisan berwarna hitam ‘Citra catering’ pada sisi kanan dan sisi kiri box. Darmanto dan istrinya melambaikan tangannya ketika mobil box itu melaju perlahan pergi meninggalkan mereka berdua.


                                                       BAB II


Wawan memasuki ruangan café ‘Waroeng Java’ yang luasnya kira kira dua ratus meter. Suasana di café itu tak begitu ramai. Pada sudut ruangan, Mata Wawantertuju pada  meja kosong dengan sofa melengkung. Alunan suara musik terdengar sayup sayup di ruangan café itu. Pada dinding ruangan tergantung lukisan gaya modern art dengan gambar figure ikan besar yang tampaknya diletakkan di piring. Dibagian dinding yang lain juga tergantung lukisan dengan warna cerah yang bergambar burung,katak,capung besar dan bunga teratai dengan  gaya lukisan seperti gambar kanak-kanak, Hampir mirip dengan lukisan aliran Paul Klee atau Arie smith.  Dengan lukisan berwarna terang cerah dan paduan dinding yang seluruhnya dilapisi kayu playwood berwarna gelap, dengan lampu sorot yang menyinari lukisan sehingga terasa suasana di ruangan itu bernuansa romantis.  Wawan mengamati ruangan itu dengan teliti untuk menemukan seseorang. Dia menuju meja disudut ruangan,duduk sebentar kemudian kembali berdiri.  Dia meninggalkan meja dan berjalan menuju meja besar yang tinggi, di tempat itu Wawan membuat sendiri minumannya berupa kopi susu ditambah gula cair.  Ketika Wawan membalikkan badannya, seorang wanita telah berdiri dihadapannya.
“hai..”  Katanya dengan lembut.
“hai..” Wawan beberapa detik menatap mata wanita itu, Dia tertegun beberapa saat kemudian dengan perlahan pandangannya beralih ke bagian perutnya.
“kenapa Wan”  Tanya wanita itu.
“Oh ga apa apa, yuk ikut aku.”  Wawan berjalan di ikuti wanita itu dari belakang.  Ketika mereka duduk seorang pelayan café menghampiri mereka.  Lina, nama wanita itu memesan cake coklat dan soft drink.  Wawan memesan nasi goring tegal.